Mulai uji coba gratis
Searching...
SoBrief
Bahasa Indonesia
EnglishEnglish
EspañolSpanish
简体中文Chinese
繁體中文Chinese (Traditional)
FrançaisFrench
DeutschGerman
日本語Japanese
PortuguêsPortuguese
ItalianoItalian
한국어Korean
РусскийRussian
NederlandsDutch
العربيةArabic
PolskiPolish
हिन्दीHindi
Tiếng ViệtVietnamese
SvenskaSwedish
ΕλληνικάGreek
TürkçeTurkish
ไทยThai
ČeštinaCzech
RomânăRomanian
MagyarHungarian
УкраїнськаUkrainian
Bahasa IndonesiaIndonesian
DanskDanish
SuomiFinnish
БългарскиBulgarian
עבריתHebrew
NorskNorwegian
HrvatskiCroatian
CatalàCatalan
SlovenčinaSlovak
LietuviųLithuanian
SlovenščinaSlovenian
СрпскиSerbian
EestiEstonian
LatviešuLatvian
فارسیPersian
മലയാളംMalayalam
தமிழ்Tamil
اردوUrdu
Pengaruh: Psikologi Persuasi

Pengaruh: Psikologi Persuasi

oleh Robert Cialdini 2017 408 halaman
4.03
500+ penilaian
Dengarkan
Coba Akses Penuh Selama 3 Hari
Buka fitur mendengarkan & lainnya!
Lanjutkan

Poin Penting

1. Jalan Pintas Mental: Cara Kerja Otomatis Kita

Sesuatu harus dibuat sesederhana mungkin, tapi tidak lebih dari itu.

Respons otomatis. Bagian pembuka mengungkap kecenderungan bawaan kita untuk merespons secara otomatis, hampir seperti “mekanik”, terhadap rangsangan tertentu, seperti induk kalkun yang merespons suara “tchip-tchip” anak-anaknya. Reaksi ini, yang sering efektif, adalah jalan pintas mental penting dalam dunia yang kompleks. Eksperimen Ellen Langer, di mana kata “karena” saja sudah cukup membuat permintaan diterima hampir tanpa pertanyaan, menunjukkan betapa kuatnya pemicu semacam ini.

Heuristik “mahal = berkualitas.” Contoh mencolok adalah perhiasan turquoise yang tidak laku, tapi kemudian terjual dua kali lipat dari harga awalnya. Pelanggan yang ragu akan kualitas menggunakan harga sebagai indikator yang dapat dipercaya, membuktikan bahwa stereotip “mahal = berkualitas” sangat kuat. Prinsip kontras ini membuat suatu barang tampak lebih menarik atau lebih mahal dibandingkan barang lain yang baru saja diperlihatkan, memengaruhi persepsi kita tanpa kita sadari.

Kebutuhan akan jalan pintas. Dalam lingkungan yang penuh informasi dan pilihan, “klik” otomatis ini adalah alat penting untuk menjalani hidup tanpa beban berlebih. Meski bisa membuat kita rentan terhadap manipulasi, biasanya cara ini efektif dan menghindarkan kita dari kelelahan mental. Peradaban maju dengan menambah jumlah tindakan yang bisa kita lakukan tanpa berpikir, menjadikan otomatisasi ini semakin krusial dalam keseharian.

2. Aturan Timbal Balik: Kekuatan Utang Sosial

Kita manusia karena nenek moyang kita belajar berbagi keterampilan dan makanan dalam jaringan kewajiban bersama.

Kewajiban membalas. Prinsip universal ini mendorong kita untuk membayar kembali kebaikan yang diterima. Baik berupa hadiah, undangan, atau jasa, menerima sesuatu menciptakan utang, rasa wajib membalas. Studi Prof. Dennis Regan, di mana satu Coca-Cola gratis membuat orang membeli dua kali lipat tiket lotre, menunjukkan kekuatan aturan ini yang bahkan melampaui rasa simpati terhadap pemberi permintaan.

Utang paksa dan pertukaran tidak adil. Aturan timbal balik bisa disalahgunakan dengan memberi keuntungan tanpa diminta, seperti bunga dari Hare Krishna di bandara. Setelah “hadiah” diterima, korban merasa wajib membalas, meski pertukaran itu tidak seimbang (satu Coca-Cola untuk beberapa tiket lotre). Rasa tidak nyaman karena berutang dan takut dicap buruk secara sosial membuat kita menerima konsesi yang tidak proporsional, sering kali merugikan diri sendiri.

Konsesi timbal balik. Variasi yang ampuh adalah teknik tolak-undur (atau “pintu di hidung”). Dengan mengajukan permintaan berlebihan yang ditolak, lalu permintaan lebih kecil (target sebenarnya), si peminta memberi kesan berkorban, sehingga kita terdorong membalasnya. Contoh pramuka muda yang menjual cokelat setelah tiket lotre menggambarkan efektivitas teknik ini, sering dipadukan dengan prinsip kontras agar tawaran kedua makin menarik.

3. Komitmen dan Konsistensi: Kebutuhan untuk Tetap Konsisten

Lebih mudah menolak di awal daripada kemudian.

Keselarasan tindakan dan keyakinan. Setelah kita mengambil sikap atau memilih suatu pendirian, muncul tekanan kuat, baik dari dalam maupun luar, untuk bertindak sesuai keputusan awal itu. Petaruh di arena balap yang makin percaya diri setelah bertaruh, atau Sara yang makin terpaut pada Tim setelah membatalkan pertunangan, menunjukkan persuasi diri ini. Pikiran kita berusaha membenarkan pilihan masa lalu.

Kekuatan komitmen publik dan tertulis. Komitmen makin kuat jika dilakukan secara aktif, terbuka, dan memerlukan usaha. Kamp tahanan Cina menggunakan pernyataan tertulis, bahkan yang disalin, untuk mengubah tahanan menjadi kolaborator, karena menulis menciptakan bukti nyata dan tekanan sosial. Perusahaan seperti Amway memanfaatkan “keajaiban” tulisan untuk memperkuat komitmen penjual dan pelanggan, sehingga pembatalan kontrak menjadi jarang.

Perangkap umpan. Taktik umpan (lowballing) adalah mendapatkan komitmen awal pada tawaran menguntungkan, lalu menghilangkan keuntungan itu, dengan harapan pelanggan yang sudah terikat akan mencari alasan baru untuk membenarkan keputusan. Penjual mobil menggunakan cara ini agar harga lebih tinggi diterima, karena komitmen awal menciptakan dasar pembenaran internal yang bertahan meski keuntungan hilang, menjebak kita dalam kebutuhan konsistensi.

4. Bukti Sosial: Kebenaran Ada pada Orang Lain

Ketika semua orang berpikir sama, tidak ada yang benar-benar berpikir.

Perilaku orang lain sebagai panduan. Kita cenderung menganggap suatu perilaku tepat jika melihat orang lain melakukannya, terutama dalam situasi tidak pasti. Itulah sebabnya tawa rekaman di televisi berhasil, atau mengapa bartender memulai tip dengan uang kecil. Prinsip ini adalah jalan pintas berguna, tapi membuat kita rentan terhadap bukti sosial palsu atau menipu, karena kita sering merespons secara otomatis.

Ketidaktahuan kolektif dan efek penonton. Dalam situasi darurat yang ambigu, kehadiran banyak saksi justru mengurangi kemungkinan bantuan. Setiap orang menunggu orang lain bereaksi, dan melihat ketenangan umum, menyimpulkan semuanya baik-baik saja. Kasus Catherine Genovese, di mana 38 saksi tidak bertindak, adalah contoh tragis ketidaktahuan kolektif, diperparah oleh anonimitas kota dan penyebaran tanggung jawab.

Kesamaan dan efek Werther. Kita lebih terpengaruh oleh tindakan orang yang mirip dengan kita. Iklan menggunakan “orang biasa” untuk menjual produk. Efek Werther, di mana bunuh diri yang diberitakan media meningkatkan bunuh diri dan kecelakaan “imitatif”, menunjukkan kekuatan bukti sosial, bahkan dalam keputusan hidup dan mati, terutama saat korban dianggap mirip dengan individu yang terpengaruh.

5. Simpati: Daya Tarik Persahabatan dan Kesamaan

Tugas utama pengacara adalah membuat kliennya disukai oleh juri.

Pengaruh orang yang kita sukai. Kita lebih cenderung memenuhi permintaan dari orang yang kita kenal dan sukai. Pertemuan Tupperware memanfaatkan dinamika ini dengan menjual lewat teman, memindahkan kehangatan persahabatan ke transaksi bisnis. Perusahaan seperti Shaklee menggunakan “rantai” rekomendasi agar penjual datang dengan nama teman bersama, membuat penolakan sulit dan memanfaatkan keinginan kita untuk tidak mengecewakan orang terdekat.

Faktor-faktor simpati. Beberapa faktor meningkatkan rasa simpati kita terhadap orang lain:

  • Penampilan fisik: Orang menarik dianggap lebih berbakat, jujur, dan cerdas (efek halo), mendapat perlakuan istimewa dalam berbagai konteks, termasuk hukum.
  • Kesamaan: Kita menyukai mereka yang mirip dengan kita, baik dalam pendapat, gaya berpakaian, atau asal-usul. Penjual memanfaatkan ini dengan berpura-pura memiliki kesamaan.
  • Pujian: Bahkan sanjungan yang jelas bisa membuat kita lebih menyukai pemberinya, seperti kebiasaan Joe Girard mengirim kartu “Anda adalah teman” kepada pelanggannya.
  • Kerja sama: Bekerja bersama menuju tujuan bersama (seperti belajar dengan puzzle atau taktik “jahat/baik” polisi) memperkuat persahabatan dan mengurangi prasangka.

Prinsip asosiasi. Kita cenderung mengaitkan kualitas positif atau negatif suatu hal dengan apa yang menyertainya. Pengiklan mengaitkan produk dengan selebritas atau gambar menyenangkan (model cantik, acara olahraga). Politisi memanfaatkan ini dengan mengasosiasikan diri pada keberhasilan dan menghindari kegagalan, meski bukan tanggung jawab mereka, berusaha memantulkan kemuliaan orang lain pada diri sendiri.

6. Otoritas: Kepatuhan Buta pada Ahli

Ketaatan hampir tanpa batas yang ditunjukkan oleh orang dewasa terhadap figur otoritas adalah hasil utama dari eksperimen ini.

Kepatuhan pada otoritas sah. Kita dididik sejak kecil untuk patuh pada figur otoritas karena biasanya bermanfaat bagi masyarakat dan ketertiban sosial. Eksperimen Milgram menunjukkan betapa orang biasa siap menyakiti orang lain atas perintah otoritas yang dianggap sah, bahkan bertentangan dengan nurani. Dua pertiga peserta memberikan kejutan listrik mematikan palsu, membuktikan “ketaatan hampir tanpa batas” pada otoritas.

Simbol-simbol otoritas. Pengaruh otoritas begitu kuat hingga simbolnya saja bisa memicu kepatuhan otomatis, sering tanpa kita sadari.

  • Gelar: Gelar seperti Dr atau Profesor dapat meningkatkan persepsi ukuran dan kredibilitas seseorang, meski tidak kompeten di bidang itu.
  • Pakaian: Seragam (polisi, dokter) atau setelan rapi memberi aura otoritas, mendorong kepatuhan, seperti yang ditunjukkan eksperimen Bickman di mana pria berseragam mendapat lebih banyak kepatuhan.
  • Aksesori: Mobil mewah atau perhiasan juga melambangkan status tinggi dan menginspirasi rasa hormat, memengaruhi perilaku kita di jalan atau interaksi sosial.

Bahaya kepatuhan otomatis. Kepatuhan mekanis ini, meski sering berguna, bisa menyebabkan kesalahan fatal, seperti perawat yang memberikan tetes telinga lewat anus karena resep yang salah tulis. Para profesional persuasi memanfaatkan kecenderungan ini dengan menggunakan aktor sebagai figur otoritas (misal Robert Young untuk Sanka) atau berpura-pura ahli tanpa kepentingan, memanfaatkan kecenderungan kita untuk tidak mempertanyakan penampilan otoritas.

7. Kelangkaan: Keinginan pada yang Terbatas

Untuk mencintai, kita harus memahami bahwa kita bisa kehilangan objek cinta kita.

Nilai eksklusivitas. Kesempatan terasa lebih menarik saat langka atau terbatas. Ketakutan kehilangan peluang adalah pendorong keputusan yang kuat, sering lebih kuat daripada harapan keuntungan setara. Contoh kuil Mormon yang tiba-tiba diinginkan karena aksesnya sementara menggambarkan prinsip ini. Kolektor menghargai barang langka, bahkan yang cacat, karena keunikan dan sulit didapat.

Reaktansi psikologis. Ketika kebebasan memilih dibatasi atau terancam, kita makin menginginkan apa yang tak bisa kita miliki. “Reaktansi” ini muncul sejak usia dua tahun (krisis oposisi) dan remaja (efek “Romeo dan Juliet”, di mana larangan orang tua memperkuat cinta). Larangan, seperti deterjen fosfat atau buku, meningkatkan keinginan dan persepsi positif terhadap objek terlarang, meski kualitasnya tidak berubah.

Kondisi optimal kelangkaan. Kelangkaan lebih kuat jika tiba-tiba (kehilangan kebebasan baru-baru ini) dan karena permintaan sosial (kompetisi). Revolusi, menurut James C. Davies, terjadi setelah periode perbaikan diikuti kemunduran kebebasan, karena orang berjuang untuk hak yang pernah mereka nikmati. Penjual memanfaatkan kompetisi (misal beberapa pembeli untuk satu mobil) untuk menciptakan demam beli, di mana logika tergantikan oleh emosi rivalitas.

8. Melindungi Diri dari Pengaruh: Mengenali dan Melawan

Konsistensi yang salah adalah setan bagi pikiran kecil.

Kesadaran mekanisme. Garis pertahanan pertama adalah menyadari bahwa kita rentan terhadap “jalan pintas” otomatis ini. Memahami bagaimana prinsip timbal balik, konsistensi, bukti sosial, simpati, otoritas, dan kelangkaan digunakan melawan kita memungkinkan kita mematikan mode otomatis. Bukan berarti menolak semua pengaruh, tapi membedakan tawaran jujur dari manipulasi dengan sadar akan bias diri.

Mengenali sinyal bahaya. Setiap prinsip punya tanda peringatan sendiri. Untuk konsistensi, itu “perasaan tidak enak di perut” saat merasa terpaksa. Untuk bukti sosial, itu pemalsuan jelas (tawa rekaman, antrean palsu). Untuk simpati, itu rasa suka yang “terlalu cepat atau tak terduga”. Untuk otoritas, itu mempertanyakan apakah otoritas itu “benar-benar kompeten” dan “tulus”. Untuk kelangkaan, itu kegelisahan emosional dan bertanya apakah kita menginginkan barang untuk dimiliki atau untuk manfaatnya.

Serangan balik strategis. Melawan pelaku manipulasi yang memalsukan atau mendistorsi sinyal, disarankan bersikap agresif. Ini bisa berupa boikot produk, mengirim surat protes, atau mengungkap manipulasi secara publik. Tujuannya menjaga integritas jalan pintas mental kita, yang penting untuk menavigasi dunia modern yang kompleks, dan memberi pelajaran pada mereka yang merusaknya agar aturan ini tetap efektif.

Terakhir diperbarui:

Report Issue

Ringkasan Ulasan

4.03 dari 5
Rata-rata dari 500+ penilaian dari Goodreads dan Amazon.

Influence et manipulation mendapatkan ulasan yang umumnya positif, dengan rata-rata penilaian sebesar 4,04 dari 5. Para pembaca menganggap buku ini informatif, membuka wawasan, dan sangat penting untuk memahami teknik-teknik persuasi. Banyak yang menghargai berbagai contoh dan studi yang disajikan, meskipun ada sebagian yang merasa buku ini terkesan berulang-ulang atau terlalu panjang. Buku ini dipuji karena memberikan wawasan mendalam tentang pemasaran, psikologi sosial, dan perilaku manusia. Para pembaca merekomendasikannya baik untuk kalangan profesional maupun masyarakat umum, dengan catatan bahwa buku ini berpotensi membantu mengenali dan melawan taktik manipulasi dalam kehidupan sehari-hari.

Your rating:
4.46
398 penilaian
Want to read the full book?

FAQ

1. What is [Influence et manipulation] by Robert Cialdini about?

  • Explores persuasion psychology: The book investigates the psychological principles that lead people to say "yes" to requests, focusing on how these principles are used in everyday life and by professionals.
  • Six core influence principles: Cialdini identifies six fundamental "weapons of influence": consistency, reciprocity, social proof, authority, liking, and scarcity.
  • Research-based insights: The author combines laboratory experiments with real-world fieldwork, infiltrating sales and marketing environments to observe persuasion tactics in action.
  • Automatic compliance mechanisms: The book explains how these principles often trigger automatic, subconscious responses, leading to unreflective consent.

2. Why should I read [Influence et manipulation] by Robert Cialdini?

  • Understand manipulation tactics: The book reveals how easily our decisions can be influenced by psychological triggers, often without our awareness.
  • Defend against exploitation: By learning these principles, readers can recognize and resist manipulative tactics used by marketers, salespeople, and others.
  • Practical, real-world examples: Cialdini provides vivid case studies and experiments, making the concepts easy to grasp and apply.
  • Improve ethical influence: The book also offers guidance on how to use these principles ethically to enhance communication, leadership, and persuasion skills.

3. What are the key takeaways from [Influence et manipulation] by Robert Cialdini?

  • Six weapons of influence: The main takeaways are the six principles—consistency, reciprocity, social proof, authority, liking, and scarcity—that drive human compliance.
  • Automaticity of consent: People often respond to these triggers without conscious thought, making them vulnerable to manipulation.
  • Defense strategies: Awareness and critical thinking are essential to resist unwanted influence.
  • Ethical application: Understanding these principles allows for both self-protection and ethical use in personal and professional contexts.

4. What are the "armes de l’influence" (weapons of influence) in [Influence et manipulation] by Robert Cialdini?

  • Definition: These are fundamental psychological triggers that prompt automatic compliance to requests.
  • The six principles: Consistency, reciprocity, social proof, authority, liking, and scarcity each represent a distinct mechanism of influence.
  • Exploited by professionals: Marketers, salespeople, and others use these principles to increase their persuasive power.
  • Automatic consent: Each weapon can provoke unthinking agreement, making it crucial to recognize when they are being used.

5. How does the principle of consistency (cohérence) work in [Influence et manipulation] by Robert Cialdini?

  • Desire for internal harmony: People have a strong need to appear and be consistent with their commitments and previous actions.
  • Commitment triggers consistency: Public or written commitments, even small ones, increase the likelihood of future compliance with related requests.
  • Risks of blind consistency: Automatic consistency can lead to poor decisions, as individuals justify choices even when evidence suggests otherwise.
  • Exploited in persuasion: Professionals use small initial commitments to pave the way for larger requests.

6. What is the rule of reciprocity in [Influence et manipulation] by Robert Cialdini and how is it exploited?

  • Universal social rule: Reciprocity compels people to repay favors or gifts, even if unsolicited, fostering cooperation but also vulnerability.
  • Exploitation tactics: Marketers and solicitors give small gifts or favors to create a sense of obligation, then request something larger in return.
  • Rejection-then-retreat technique: A large initial request is refused, followed by a smaller one, which feels like a concession and is more likely to be accepted.
  • Powerful across cultures: The reciprocity rule is deeply ingrained and difficult to resist.

7. How does the principle of social proof (preuve sociale) in [Influence et manipulation] by Robert Cialdini affect behavior?

  • Looking to others: People determine appropriate behavior by observing what others do, especially in uncertain situations.
  • Conformity effects: Social proof can lead to powerful conformity, such as increased suicides or accidents after media coverage (the Werther effect).
  • Exploited in marketing: Fake testimonials, laugh tracks, and staged popularity are used to manipulate perceptions and drive behavior.
  • Stronger with similarity and uncertainty: Social proof is most influential when the observed group is similar to us or when the situation is ambiguous.

8. What is the "Werther effect" as explained in [Influence et manipulation] by Robert Cialdini?

  • Origin and definition: Named after Goethe’s novel, the Werther effect describes how publicized suicides can trigger imitative suicides.
  • Modern evidence: Studies show suicide rates and fatal accidents rise after widely reported suicides, especially with greater publicity.
  • Imitation beyond suicide: Some individuals mimic suicides through fatal accidents, influenced by social proof and media coverage.
  • Broader implications: The effect demonstrates the powerful, sometimes dangerous, impact of social proof on human behavior.

9. What role does the principle of liking (sympathy) play in persuasion according to [Influence et manipulation] by Robert Cialdini?

  • Liking increases compliance: People are more likely to agree to requests from those they like, including friends, attractive individuals, or those who are similar.
  • Sales and social influence: Tupperware parties and successful salespeople leverage personal relationships and likability to drive sales.
  • Factors enhancing liking: Physical attractiveness, similarity, compliments, and cooperation all boost likability and persuasive power.
  • Professional exploitation: Marketers and persuaders intentionally build rapport to increase compliance.

10. What does [Influence et manipulation] by Robert Cialdini say about the power of authority in persuasion?

  • Automatic obedience: People tend to comply with authority figures, sometimes even against their better judgment, as shown in Milgram’s experiments.
  • Symbols of authority: Titles, uniforms, and luxury items serve as cues that trigger obedience, regardless of actual expertise.
  • Risks of blind obedience: Automatic compliance can lead to errors and abuses, especially when authority is faked or misused.
  • Critical evaluation needed: The book urges readers to question the legitimacy and motives of authority figures.

11. What is the principle of scarcity (rareté) in [Influence et manipulation] by Robert Cialdini and why does it influence decisions?

  • Value of rarity: Scarce or limited items are perceived as more valuable, triggering a fear of missing out.
  • Psychological reactance: When access is restricted, people are motivated to regain that freedom, increasing desire for the item.
  • Common tactics: Limited-time offers, sold-out products, and forbidden information are used to create urgency and drive decisions.
  • Emotional manipulation: Scarcity often leads to rushed, less rational choices.

12. How can readers defend themselves against the weapons of influence described in [Influence et manipulation] by Robert Cialdini?

  • Awareness is key: Recognizing the six principles and their tactics is the first step in resisting manipulation.
  • Monitor emotional responses: Feelings of urgency, obligation, or excessive liking should serve as warning signals to pause and reflect.
  • Separate person from request: Focus on the merits of the offer, not the likability or authority of the persuader.
  • Reframe situations: Mentally reclassify manipulative tactics (like unsolicited gifts) as sales strategies, reducing their persuasive power.

Tentang Penulis

Robert Cialdini adalah seorang psikolog dan penulis ternama yang mengkhususkan diri dalam ilmu pengaruh dan persuasi. Ia dikenal luas berkat karya revolusionernya mengenai teknik kepatuhan dan psikologi persuasi. Cialdini melakukan penelitian mendalam, termasuk studi lapangan dan eksperimen, untuk mengidentifikasi prinsip-prinsip utama pengaruh. Temuannya telah banyak diterapkan dalam bidang pemasaran, bisnis, dan psikologi sosial. Karya Cialdini memberinya pengakuan sebagai ahli di bidangnya, dan ia telah menjadi konsultan bagi berbagai organisasi. Gaya penulisannya dikenal mudah dipahami dan menarik, sehingga konsep psikologi yang kompleks dapat dimengerti oleh khalayak luas.

Follow
Dengarkan
Now playing
Pengaruh: Psikologi Persuasi
0:00
-0:00
Now playing
Pengaruh: Psikologi Persuasi
0:00
-0:00
1x
Queue
Home
Swipe
Library
Get App
Try Full Access for 3 Days
Listen, bookmark, and more
Compare Features Free Pro
📖 Read Summaries
Read unlimited summaries. Free users get 3 per month
🎧 Listen to Summaries
Listen to unlimited summaries in 40 languages
❤️ Unlimited Bookmarks
Free users are limited to 4
📜 Unlimited History
Free users are limited to 4
📥 Unlimited Downloads
Free users are limited to 1
Risk-Free Timeline
Today: Get Instant Access
Listen to full summaries of 26,000+ books. That's 12,000+ hours of audio!
Day 2: Trial Reminder
We'll send you a notification that your trial is ending soon.
Day 3: Your subscription begins
You'll be charged on Jun 9,
cancel anytime before.
Consume 2.8× More Books
2.8× more books Listening Reading
Our users love us
600,000+ readers
Trustpilot Rating
TrustPilot
4.6 Excellent
This site is a total game-changer. I've been flying through book summaries like never before. Highly, highly recommend.
— Dave G
Worth my money and time, and really well made. I've never seen this quality of summaries on other websites. Very helpful!
— Em
Highly recommended!! Fantastic service. Perfect for those that want a little more than a teaser but not all the intricate details of a full audio book.
— Greg M
Save 62%
Yearly
$119.88 $44.99/year/yr
$3.75/mo
Monthly
$9.99/mo
Start a 3-Day Free Trial
3 days free, then $44.99/year. Cancel anytime.
Unlock a world of fiction & nonfiction books
26,000+ books for the price of 2 books
Read any book in 10 minutes
Discover new books like Tinder
Request any book if it's not summarized
Read more books than anyone you know
#1 app for book lovers
Lifelike & immersive summaries
30-day money-back guarantee
Download summaries in EPUBs or PDFs
Cancel anytime in a few clicks
Scanner
Find a barcode to scan

We have a special gift for you
Open
38% OFF
DISCOUNT FOR YOU
$79.99
$49.99/year
only $4.16 per month
Continue
2 taps to start, super easy to cancel
Settings
General
Widget
Loading...
We have a special gift for you
Open
38% OFF
DISCOUNT FOR YOU
$79.99
$49.99/year
only $4.16 per month
Continue
2 taps to start, super easy to cancel