Facebook Pixel
Searching...
Bahasa Indonesia
EnglishEnglish
EspañolSpanish
简体中文Chinese
FrançaisFrench
DeutschGerman
日本語Japanese
PortuguêsPortuguese
ItalianoItalian
한국어Korean
РусскийRussian
NederlandsDutch
العربيةArabic
PolskiPolish
हिन्दीHindi
Tiếng ViệtVietnamese
SvenskaSwedish
ΕλληνικάGreek
TürkçeTurkish
ไทยThai
ČeštinaCzech
RomânăRomanian
MagyarHungarian
УкраїнськаUkrainian
Bahasa IndonesiaIndonesian
DanskDanish
SuomiFinnish
БългарскиBulgarian
עבריתHebrew
NorskNorwegian
HrvatskiCroatian
CatalàCatalan
SlovenčinaSlovak
LietuviųLithuanian
SlovenščinaSlovenian
СрпскиSerbian
EestiEstonian
LatviešuLatvian
فارسیPersian
മലയാളംMalayalam
தமிழ்Tamil
اردوUrdu
How to Be a Stoic

How to Be a Stoic

Using Ancient Philosophy to Live a Modern Life
oleh Massimo Pigliucci 2017 288 halaman
4.05
12k+ penilaian
Dengarkan
Listen to Summary

Poin Penting

1. Stoisisme: Sebuah filosofi praktis untuk kehidupan modern

"Stoisisme muncul dan berkembang di masa ketidakstabilan politik; kehidupan orang-orang bisa berubah dalam sekejap, dan kematian bisa menimpa siapa saja, di usia berapa pun."

Kebijaksanaan kuno, aplikasi modern. Stoisisme, yang dikembangkan di Yunani dan Roma kuno, menawarkan kerangka waktu yang abadi untuk menghadapi tantangan hidup. Prinsip-prinsip intinya – fokus pada apa yang ada dalam kendali kita, mengembangkan kebajikan, dan menerapkan akal dalam kehidupan sosial – tetap relevan hingga hari ini seperti dua milenium yang lalu.

Alat praktis untuk kehidupan sehari-hari. Stoisisme memberikan strategi konkret untuk:

  • Mengelola emosi
  • Menghadapi kesulitan
  • Membuat keputusan etis
  • Mengembangkan hubungan yang bermakna
  • Menemukan tujuan dan ketenangan di tengah kekacauan

Dengan mengadopsi praktik Stoik, individu modern dapat mengembangkan ketahanan, meningkatkan pengambilan keputusan, dan menjalani kehidupan yang lebih memuaskan di dunia yang semakin tidak pasti.

2. Dikotomi kendali: Fokus pada apa yang bisa Anda pengaruhi

"Beberapa hal ada dalam kekuasaan kita, sementara yang lain tidak. Dalam kekuasaan kita adalah pendapat, motivasi, keinginan, aversi, dan, dalam satu kata, apa pun yang merupakan hasil dari tindakan kita sendiri; tidak dalam kekuasaan kita adalah tubuh kita, harta kita, reputasi, jabatan, dan, dalam satu kata, apa pun yang bukan hasil dari tindakan kita sendiri."

Pemberdayaan melalui penerimaan. Dikotomi kendali Stoik mengajarkan kita untuk membedakan antara apa yang bisa dan tidak bisa kita pengaruhi. Dengan memfokuskan energi kita pada hal-hal yang ada dalam kendali kita – terutama pikiran, penilaian, dan tindakan kita – kita dapat menghindari frustrasi dan kecemasan yang tidak perlu.

Aplikasi praktis:

  • Identifikasi apa yang benar-benar ada di bawah kendali Anda dalam situasi apa pun
  • Terima peristiwa eksternal dengan ketenangan
  • Salurkan usaha Anda ke area di mana Anda bisa membuat perbedaan
  • Kembangkan rasa damai batin dengan melepaskan apa yang tidak bisa Anda kendalikan

Prinsip ini tidak menganjurkan pasif, tetapi lebih kepada pendekatan strategis terhadap kehidupan yang memaksimalkan agensi pribadi sambil meminimalkan energi emosional yang terbuang.

3. Hidup sesuai dengan alam: Menerapkan akal dalam kehidupan sosial

"Apakah pernyataan kita yang lain tidak dapat dipercaya—bahwa sifat manusia itu beradab dan penuh kasih serta dapat dipercaya?"

Akal dan harmoni sosial. Bagi Stoik, hidup "sesuai dengan alam" berarti menggunakan kapasitas kita untuk berakal dalam menavigasi kehidupan sosial secara efektif. Ini melibatkan pengakuan terhadap sifat sosial kita yang melekat dan bekerja menuju kebaikan bersama.

Aspek kunci hidup sesuai dengan alam:

  • Mengembangkan kebijaksanaan untuk membuat keputusan yang baik
  • Menerapkan keadilan dalam interaksi kita dengan orang lain
  • Mengembangkan keberanian untuk menghadapi tantangan hidup
  • Melakukan moderasi dalam keinginan dan tindakan kita

Dengan menyelaraskan perilaku kita dengan kebajikan-kebajikan ini, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih harmonis dan menemukan pemenuhan pribadi. Pendekatan ini menekankan keterhubungan kita dan mendorong kita untuk melihat diri kita sebagai bagian dari keseluruhan yang lebih besar, bukan individu yang terisolasi.

4. Kebajikan sebagai kebaikan tertinggi: Karakter di atas keadaan eksternal

"Karena jika seseorang menunjukkan ini, seorang pria akan menjauh dari kesalahannya sendiri; tetapi selama Anda tidak berhasil menunjukkan ini, Anda tidak perlu heran jika dia tetap pada kesalahannya, karena dia bertindak karena dia memiliki kesan bahwa dia benar."

Keunggulan internal di atas barang eksternal. Stoisisme menempatkan nilai tertinggi pada kebajikan – keunggulan karakter seseorang – di atas semua keadaan atau kepemilikan eksternal. Perspektif ini mengalihkan fokus kita dari hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan sepenuhnya (kekayaan, status, kesehatan) kepada apa yang selalu bisa kita kembangkan: karakter moral kita.

Empat kebajikan kardinal:

  1. Kebijaksanaan (pengetahuan praktis tentang baik dan buruk)
  2. Keadilan (keadilan dan integritas dalam interaksi kita)
  3. Keberanian (menghadapi tantangan hidup dengan keteguhan)
  4. Pengendalian diri (moderasi dan pengendalian diri)

Dengan memprioritaskan kebajikan-kebajikan ini, Stoik berpendapat bahwa kita dapat mencapai eudaimonia (kehidupan yang baik) terlepas dari keadaan eksternal. Pendekatan ini memberikan fondasi yang stabil untuk kebahagiaan dan harga diri yang tidak bergantung pada keberuntungan yang sementara atau pendapat orang lain.

5. Menghadapi kesulitan: Mengubah rintangan menjadi peluang

"Halangan terhadap tindakan memajukan tindakan. Apa yang menghalangi jalan menjadi jalan."

Pertumbuhan melalui tantangan. Stoisisme menawarkan reframing yang kuat terhadap kesulitan: rintangan bukan hanya penghalang yang harus diatasi, tetapi peluang untuk pertumbuhan dan perbaikan diri. Perspektif ini memungkinkan kita untuk menghadapi kesulitan dengan pola pikir proaktif yang berorientasi pada solusi.

Strategi untuk mengubah rintangan menjadi peluang:

  • Latih visualisasi negatif untuk mempersiapkan kemungkinan kemunduran
  • Anggap tantangan sebagai ujian karakter dan kesempatan untuk menerapkan kebajikan
  • Cari manfaat atau pelajaran tersembunyi dalam situasi sulit
  • Fokus pada apa yang bisa Anda kendalikan dalam keadaan yang merugikan

Dengan mengadopsi pola pikir ini, kita dapat mengembangkan ketahanan dan menemukan makna bahkan di saat-saat yang paling sulit. Pendekatan Stoik mengajarkan kita untuk melihat setiap rintangan sebagai kesempatan untuk menjadi lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih berbudi pekerti.

6. Mengelola emosi: Mengembangkan ketenangan dan keseimbangan

"Untuk setiap tantangan, ingatlah sumber daya yang Anda miliki di dalam diri Anda untuk menghadapinya."

Kecerdasan emosional melalui filosofi. Stoisisme menawarkan teknik praktis untuk mengelola respons emosional kita terhadap peristiwa hidup. Tujuannya bukan untuk menekan emosi, tetapi untuk mengembangkan keadaan ketenangan (ataraxia) dan keseimbangan di tengah keberuntungan baik maupun buruk.

Teknik Stoik untuk pengelolaan emosi:

  • Periksa kesan Anda sebelum bereaksi
  • Latih "pandangan dari atas" untuk mendapatkan perspektif
  • Gunakan jarak kognitif untuk memisahkan peristiwa dari penilaian Anda tentangnya
  • Gunakan pembicaraan rasional untuk menantang pikiran yang tidak membantu

Dengan menguasai praktik-praktik ini, kita dapat mengurangi emosi negatif seperti kemarahan dan kecemasan sambil memupuk rasa damai batin. Ketahanan emosional ini memungkinkan kita untuk merespons tantangan hidup dengan kejernihan dan kebijaksanaan, bukan dengan reaksi impulsif.

7. Melatih latihan Stoik: Kebiasaan sehari-hari untuk pertumbuhan pribadi

"Jangan biarkan tidur menyentuh kelopak mata lembut Anda sampai Anda telah menghitung setiap tindakan hari itu—Bagaimana saya telah berbuat salah, apa yang telah dilakukan atau ditinggalkan? Jadi mulailah, dan tinjau tindakan Anda, dan kemudian untuk tindakan yang buruk, tegurlah diri Anda, untuk yang baik bersyukurlah."

Filosofi sebagai cara hidup. Stoisisme bukan hanya sekadar kumpulan ide, tetapi praktik yang harus dibudayakan setiap hari. Dengan mengintegrasikan latihan Stoik ke dalam rutinitas kita, kita dapat secara bertahap membentuk kembali kebiasaan berpikir dan bertindak kita.

Praktik Stoik kunci:

  • Meditasi pagi: Tetapkan niat untuk hari itu
  • Refleksi malam: Tinjau tindakan Anda dan pelajari dari mereka
  • Visualisasi negatif: Bayangkan kehilangan apa yang Anda hargai untuk menghargainya lebih
  • Ketidaknyamanan sukarela: Latih ketahanan dengan menghadapi kesulitan kecil
  • Kesadaran penuh: Perhatikan pikiran dan kesan Anda sepanjang hari

Praktik konsisten dari latihan-latihan ini dapat mengarah pada pertumbuhan pribadi yang mendalam, membantu kita menyelaraskan tindakan kita dengan nilai-nilai kita dan mengembangkan kesadaran diri serta pengendalian diri yang lebih besar.

8. Menghadapi kematian: Menerima ketidakabadian hidup

"Apakah saya harus mati, ya? Jika segera, maka saya sedang mati: jika segera, saya makan malam sekarang, karena ini adalah waktu makan malam, dan setelah itu ketika saatnya tiba, saya akan mati."

Kematian sebagai pengajar kehidupan. Stoisisme mendorong kita untuk menghadapi kematian kita secara langsung, bukan sebagai obsesi yang menyeramkan, tetapi sebagai cara untuk memperjelas prioritas kita dan hidup lebih penuh. Dengan menerima inevitabilitas kematian, kita dapat secara paradoks menemukan makna dan penghargaan yang lebih besar dalam hidup.

Pendekatan Stoik terhadap kematian:

  • Memento mori: Pengingat rutin tentang kematian kita untuk menjaga perspektif
  • Menerima kematian sebagai bagian alami dari kehidupan, bukan sesuatu yang perlu ditakuti
  • Menggunakan kesadaran akan kematian untuk memotivasi tindakan yang berbudi pekerti dan kehidupan yang bermakna
  • Mempersiapkan kematian kita sendiri dengan menjalani setiap hari seolah itu mungkin hari terakhir kita

Konfrontasi dengan kematian ini dapat membebaskan kita dari kekhawatiran sepele dan membantu kita fokus pada apa yang benar-benar penting dalam waktu terbatas yang kita miliki.

9. Mengembangkan hubungan yang bermakna: Cinta, persahabatan, dan kewajiban sosial

"Ke mana pun saya pergi, ada matahari, ada bulan, ada bintang-bintang, mimpi, pertanda, percakapan dengan para dewa."

Keterhubungan dan tanggung jawab sosial. Sementara Stoisisme menekankan kekuatan batin, ia juga mengakui sifat sosial kita yang mendalam. Filosofi ini mengajarkan kita untuk mengembangkan hubungan yang bermakna sambil mempertahankan kemandirian dan integritas kita.

Prinsip Stoik untuk hubungan:

  • Perlakukan orang lain dengan keadilan dan kebaikan, terlepas dari status mereka
  • Latih "cinta dengan keterpisahan" – peduli dengan mendalam sambil menerima ketidakabadian
  • Penuhi kewajiban sosial Anda sebagai warga negara, anggota keluarga, dan teman
  • Cari persahabatan yang didasarkan pada kebajikan dan pertumbuhan bersama
  • Luaskan lingkaran kepedulian Anda untuk mencakup seluruh umat manusia

Dengan menerapkan prinsip Stoik dalam hubungan kita, kita dapat membangun koneksi yang lebih dalam sambil mempertahankan ketahanan emosional dan rasa tujuan kita.

10. Pengambilan keputusan etis: Kebijaksanaan dalam situasi kompleks

"Di mana pun ada pengetahuan tentang hal-hal baik, akan tahu bagaimana mencintainya; tetapi bagaimana mungkin seseorang yang tidak dapat membedakan hal-hal baik dari yang jahat dan hal-hal yang tidak penting dari keduanya memiliki kekuatan untuk mencintai?"

Kebijaksanaan praktis dalam tindakan. Stoisisme menyediakan kerangka untuk pengambilan keputusan etis yang melampaui aturan yang kaku, menekankan pengembangan kebijaksanaan praktis (phronesis) untuk menavigasi situasi moral yang kompleks.

Pendekatan Stoik terhadap keputusan etis:

  • Kembangkan empat kebajikan kardinal sebagai fondasi
  • Pertimbangkan konsekuensi yang lebih luas dari tindakan Anda
  • Tuju untuk kebaikan bersama, bukan hanya keuntungan pribadi
  • Gunakan akal untuk memeriksa kesan dan penilaian Anda
  • Cari nasihat dari mentor dan panutan yang bijaksana

Dengan mengembangkan jenis kebijaksanaan praktis ini, kita dapat membuat pilihan yang lebih bijaksana dan etis baik dalam ranah pribadi maupun profesional, berkontribusi pada masyarakat yang lebih adil dan harmonis.

Terakhir diperbarui:

FAQ

What's How to Be a Stoic about?

  • Exploration of Stoicism: The book delves into Stoic philosophy, focusing on how ancient principles can be applied to modern life. Massimo Pigliucci uses the teachings of Epictetus as a guide for readers to navigate life's challenges.
  • Personal Journey: Author Massimo Pigliucci shares his personal journey of discovering Stoicism and how it has influenced his life. He uses dialogues with the ancient Stoic philosopher Epictetus to illustrate key concepts and practices.
  • Practical Application: It emphasizes practical exercises and reflections that help individuals cultivate a Stoic mindset. The author aims to make Stoicism accessible and relevant to contemporary readers.

Why should I read How to Be a Stoic?

  • Personal Growth: The book offers insights into developing a resilient character and improving emotional well-being through Stoic practices. Readers can learn to manage their desires and reactions effectively.
  • Timeless Wisdom: Stoicism provides timeless wisdom that can help individuals cope with modern life's uncertainties and stresses. The principles discussed are applicable regardless of one's background or beliefs.
  • Empowerment and Growth: By applying Stoic principles, readers can develop a greater sense of agency and control over their lives. The philosophy encourages personal growth and ethical living, which can lead to a more fulfilling life.

What are the key takeaways of How to Be a Stoic?

  • Dichotomy of Control: A central theme is understanding what is within our control and what is not. This distinction helps reduce anxiety and focus efforts on what truly matters.
  • Virtue as the Highest Good: The book emphasizes that virtue is the only true good, and external factors like wealth or health are "preferred indifferents." This perspective encourages readers to prioritize character development.
  • Practical Exercises: Pigliucci includes practical exercises to help readers implement Stoic principles in their daily lives. These exercises promote mindfulness and reflection, fostering a deeper understanding of oneself.

What are the best quotes from How to Be a Stoic and what do they mean?

  • "We must make the best of those things that are in our power, and take the rest as nature gives it.": This quote encapsulates the Stoic principle of focusing on what we can control while accepting what we cannot. It encourages a mindset of resilience and acceptance.
  • "A man cannot live well if he knows not how to die well.": This highlights the importance of preparing for death as a part of living a meaningful life. Understanding mortality can lead to a more fulfilling existence.
  • "Bear and forbear": This quote encapsulates the Stoic approach to enduring life's challenges with patience and resilience. It encourages individuals to accept what they cannot change while maintaining their integrity.

How does How to Be a Stoic define the dichotomy of control?

  • Definition: The dichotomy of control is a fundamental Stoic concept that divides things into two categories: what is within our control and what is not. Understanding this distinction is crucial for managing our emotional responses.
  • Practical Application: By focusing on what we can control—our thoughts, decisions, and actions—we can reduce anxiety and frustration about external circumstances. This practice fosters a sense of empowerment and agency.
  • Emotional Resilience: Accepting that many aspects of life are beyond our control allows us to maintain equanimity in the face of adversity. This perspective helps cultivate emotional resilience and a more balanced outlook on life.

What is the discipline of desire in How to Be a Stoic?

  • Understanding Wants: The discipline of desire focuses on recognizing what is proper to want or not want. It teaches readers to align their desires with what is within their control.
  • Acceptance of Nature: Stoics advocate for living in accordance with nature, which involves accepting the natural order of things. This acceptance helps mitigate frustration and disappointment.
  • Emotional Regulation: By practicing this discipline, individuals can learn to manage their emotions more effectively. It encourages reflection on the causes of emotions and how to redirect them positively.

How does How to Be a Stoic address the discipline of action?

  • Character and Virtue: The discipline of action emphasizes the importance of character and virtue in decision-making. It teaches that our actions should reflect our moral values.
  • Role Models: The book discusses the significance of role models in shaping our actions and character. By observing virtuous individuals, we can learn how to navigate challenges with integrity.
  • Social Engagement: Stoicism encourages active participation in society, promoting love for humanity and nature. This discipline highlights the interconnectedness of individuals and the importance of contributing positively to the community.

What insights does How to Be a Stoic provide on the discipline of assent?

  • Reacting to Situations: The discipline of assent focuses on how we react to external events and impressions. It teaches the importance of withholding judgment until we fully understand a situation.
  • Mindfulness Practice: The book encourages mindfulness as a way to cultivate awareness of our thoughts and reactions. This practice helps prevent impulsive responses and promotes thoughtful decision-making.
  • Emotional Resilience: By mastering the discipline of assent, individuals can develop greater emotional resilience. This resilience allows for a more balanced and composed approach to life's challenges.

How does How to Be a Stoic relate to modern psychological practices?

  • Cognitive Behavioral Therapy (CBT): The book draws parallels between Stoicism and modern psychological therapies like CBT. Both emphasize the importance of reframing thoughts and managing emotions.
  • Evidence-Based Practices: Pigliucci discusses how Stoic principles have influenced contemporary therapeutic practices, highlighting their relevance. This connection reinforces the practicality of Stoicism in addressing mental health issues.
  • Personal Empowerment: The Stoic approach encourages individuals to take responsibility for their thoughts and actions, fostering a sense of empowerment. This aligns with modern psychological practices that promote self-efficacy and resilience.

How does How to Be a Stoic approach the topic of death?

  • Acceptance of Mortality: The book emphasizes the importance of accepting death as a natural part of life. This acceptance can lead to a more meaningful appreciation of the present moment.
  • Philosophical Reflection: Pigliucci encourages readers to reflect on their mortality and the impermanence of life. This reflection fosters a sense of urgency to live authentically and ethically.
  • Empowerment through Perspective: By viewing death as an inevitable aspect of existence, individuals can cultivate a sense of peace and resilience. This perspective helps reduce fear and anxiety surrounding death.

How does How to Be a Stoic encourage social engagement?

  • Cosmopolitanism: The book promotes the idea of cosmopolitanism, urging individuals to see themselves as part of a larger human community. This perspective fosters empathy and compassion for others.
  • Moral Responsibility: Stoicism encourages individuals to act with moral responsibility toward others. It emphasizes the importance of contributing positively to society and caring for fellow human beings.
  • Role of Virtue: Engaging with others through the lens of virtue helps cultivate a more just and equitable society. The book highlights the interconnectedness of individuals and the impact of virtuous actions on the community.

Ulasan

4.05 dari 5
Rata-rata dari 12k+ penilaian dari Goodreads dan Amazon.

Cara Menjadi Seorang Stoik memperkenalkan Stoisisme sebagai filosofi praktis untuk kehidupan modern. Pigliucci menggunakan anekdot pribadi dan percakapan dengan Epictetus untuk menjelaskan prinsip-prinsip Stoik. Pembaca menghargai aksesibilitas buku ini dan nasihat praktis yang diberikan, meskipun beberapa merasa bahwa isi buku ini terkesan terputus-putus atau dangkal. Banyak yang memuji wawasan yang ditawarkan mengenai pengendalian emosi dan fokus pada kebajikan. Kritikus mencatat adanya kutipan berlebihan dari teks-teks kuno dan kurangnya integrasi dengan psikologi modern. Secara keseluruhan, buku ini dianggap sebagai pengantar yang baik untuk Stoisisme, menginspirasi pembaca untuk menjelajahi filosofi ini lebih dalam.

Your rating:

Tentang Penulis

Massimo Pigliucci adalah seorang intelektual yang multifaset, menjabat sebagai Profesor Filsafat K.D. Irani di City College of New York. Karya akademisnya mencakup biologi evolusi, filsafat ilmu, pseudosains, dan filsafat praktis. Pigliucci adalah penulis produktif, dengan buku-buku seperti "How to Be a Stoic" dan "Nonsense on Stilts." Ia aktif berinteraksi dengan publik melalui blogging dan podcasting. Buku terbarunya, "The Quest for Character," mengeksplorasi pelajaran kepemimpinan dari kisah Socrates dan Alcibiades. Karya Pigliucci sering menjembatani filsafat kuno dengan aplikasi modern, menjadikan ide-ide kompleks dapat diakses oleh khalayak yang lebih luas.

0:00
-0:00
1x
Dan
Andrew
Michelle
Lauren
Select Speed
1.0×
+
200 words per minute
Home
Library
Get App
Create a free account to unlock:
Requests: Request new book summaries
Bookmarks: Save your favorite books
History: Revisit books later
Recommendations: Get personalized suggestions
Ratings: Rate books & see your ratings
Try Full Access for 7 Days
Listen, bookmark, and more
Compare Features Free Pro
📖 Read Summaries
All summaries are free to read in 40 languages
🎧 Listen to Summaries
Listen to unlimited summaries in 40 languages
❤️ Unlimited Bookmarks
Free users are limited to 10
📜 Unlimited History
Free users are limited to 10
Risk-Free Timeline
Today: Get Instant Access
Listen to full summaries of 73,530 books. That's 12,000+ hours of audio!
Day 4: Trial Reminder
We'll send you a notification that your trial is ending soon.
Day 7: Your subscription begins
You'll be charged on Apr 10,
cancel anytime before.
Consume 2.8x More Books
2.8x more books Listening Reading
Our users love us
100,000+ readers
"...I can 10x the number of books I can read..."
"...exceptionally accurate, engaging, and beautifully presented..."
"...better than any amazon review when I'm making a book-buying decision..."
Save 62%
Yearly
$119.88 $44.99/year
$3.75/mo
Monthly
$9.99/mo
Try Free & Unlock
7 days free, then $44.99/year. Cancel anytime.
Scanner
Find a barcode to scan

Settings
General
Widget
Appearance
Loading...
Black Friday Sale 🎉
$20 off Lifetime Access
$79.99 $59.99
Upgrade Now →